Sabtu, 23 Maret 2013

Ada cinta dalam segala diam



Untuk kesekian kalinya aku merasakan debar ini, debaran yang tak pernah berhenti. Saat aku melihatmu, menikmati senyum mu dari jauh. Ada kebahagiaan yang kurasakan, aku tau ini tidak rasional tapi aku tidak bisa lagi meragukan perasaanku jika aku telah bertahan dua tahun ini dalam penantian yang tak akan pernah ada jawaban.
aku tau, aku begitu sadar akan diriku aku tak mungkin mengatakan nya padamu. Aku hanyalah seseorang yang tak pernah terlihat dan kau adalah sang pangeran, but hey i'm exist. Ia aku hanya mencintaimu dalam diam. Tapi aku tak akan pernah berhenti, aku akan memelihara perasaan ini sayang. Karena perasaanku ini mengubahku menjadi seseorang yang lebih baik. Aku tahu ini sakit, tapi untuk alasan apapun aku tak akan pernah berhenti mencintaimu. Terimakasih untukmu yang telah bersedia menjadi inspirasi ku selama ini secara gratis.


Ada risau yang tak pernah berhenti dalam diriku. Gadis itu, menyeret perhatian ku sampai ke ubun. Aku tahu dia sering memperhatikanku dari jauh, aku sadar akan tatapan nya dan seakan aku mengenal mu dari pandanganmu itu. Awalnya aku tak pernah peduli, karena mungkin kamu hanyalah sebuah ilusi yang aku buat, namun aku sadar akan perasaanku yang mencintai tatapan itu. Kau memang, sederhana, dan aku mencintai kesederhanaanmu. Karena kesederhanaanmu bagaikan berlian yang sulit kutemui diantara lautan wanita dimana-mana. Tapi.... aku kehilangan kamu. Aku kehilangan tatapan itu. Kamu kemana? Mengapa berhenti? Aku butuh tatapanmu. Tatapanmu adalah penyemangat hari-hari ku. Aku.... aku mencintaimu dalam segala diam nya kamu.


3 Tahun kemudian, mereka dipertemukan dalam kisah yang berbeda. bukan lagi seragam putih abu yang mereka pakai. gadis itu terlihat sangat-sangat berbeda saat ini, dengan mata beningnya dengan rambut yang dia gerai wajah nya bersinar. mendekati kata sempurna. 
"loh.. kamu laras kan?"
"bagas? SMA 25?"
"iya.. apa kabar?"
"baik. kamu?"
"baik juga.."
mereka menyelipkan kerinduan diantara percakapan kaku mereka. mereka menyadari akan hadirnya perasaan aneh yang menggelitik mereka. ada rasa lega luar biasa yang telah mereka tahan masing-masing selama tahun belakangan ini. dan sebenarnya mereka tidak saling tahu.

"oh iya, kenapa kamu tau namaku?" bagas mulai mengeluarkan suarany alagi setelah beberapa menit teridam. bergulat dengan pikiran sendiri di tengah guyuran hujan di halte saat itu. laras menatap bagas lalu tersenyum. "bintang sekolah siapa yang tidak tahu." bagas tertawa saat mendengar jawaban laras "kukira pesonaku tidak separah itu.." katanya sambil geleng-geleng kepala. ya, pesona mu sangat parah dan tidak berubah.
"lain halnya denganku, aku tidak pernah terlihat. tidak populer. tapi kamu tahu namaku." laras terkekeh pelan sambil menatap hujan yang pelan-pelan mereda.
"kamu... sangat terlihat. bahkan tak pernah lepas dari perhatianku." bukan kah kamu yang seperti itu. bukan kah aku yang selalu memperhatikanmu.
"oh ya?" kata gadis itu sedikit terhenyak. bagas tersenyum lalu mengangguk. menit menit berikutnya mereka terdiam kembali. begitu asik bercakap dengan pikiran nya sendiri. 

"kamu percaya.. everything is possible?" lagi-lagi bagas yang mengawali membuka mulut. laras menatap bagas sambil mengerenyitkan dahinya. "ya, segala sesuatu itu memang mngkin kan?" katanya, bagas mengangguk mengiyakan. "jadi sepertinya memang mungkin aku menaruh harap padamu" laras mengangkat satu alisnya. berusaha memutar otak nya 3 tahun kebelakang. bukan kah dia yang selalu memperhatika pria ini, bukan sebaliknya.
"ras.."
"iya?"
"masih adakah tatapan itu untuk ku?" katanya seperlan mungkin, hampir berbisik. tapi fokus laras pada pria ini berhasil mengbaikan segla bising di sekitarnya. laras menatap bagas cukup lama. "apakah tatapanku sama dengan tiga tahun yang lalu?" laras terus menatap mata hitam pekat milik bagas. pria itu tersenyum. "sedikit berbeda, matamu lebih bisa berbicara saat ini." laras mengangguk. "begitu yah, jadi apa yang kamu dengar dari mataku?"
"kita."
"apa?"
"iya matamu berbicara tentang kita, tentang kita yang saling menaruh harap padahal belum pernah saling mengenal."
"benarkah?"
"ya..tentu saja."

mereka tertawa ditengah guyuran hujan yang kian deras. tanpa mereka sadari tangan mereka kini saling menggenggam. 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar