Rabu, 17 April 2013

janjimu malam itu...




“aku sayang kamu ras.” Kataku sambil membelai rambutnya dan mengecup keningnya, dia mengangguk, “aku tau za.” Katanya sambil tersenyum, senyuman itu, senyuman yang memberiku semangat dalam segala hal sebentar lagi akan hilang. Di telan kejamnya jarak.

 “do’ain aku supaya cepet lulus dan temenin kamu setiap hari di rumah sakit.” ucapnya tulus, aku mencium kening nya beberapa kali, seakan aku sangat tidak merelakan nya pergi, seakan aku tak suka jika kelak dia akan menjadi  dokter juga, teman seprofesiku. Aku senang karena cita-cita nya sejak kecil itu akan tercapai, aku senang jika dia sukses, sama sepertiku. Tapi tetap saja, aku tak terbiasa memandang hari tanpa menatapnya.

“jangan banyak ngelamun.” Aku menggeleng, “Cuma takut kehilangan kamu aja.” Desisku, dia tertawa pelan, terdengar pahit di telingaku.
“Cuma beberapa tahun aja kok pak reza.” Ucapnya, senyum nya terus mengembang di bibirnya, tak sanggup aku menghapusnya dengan kesedihanku saat ini.
“andaikan aku bisa ganti kata ‘Cuma beberapa tahun’ dengan Cuma beberapa bulan, atau Cuma beberapa hari.” Kataku, dia terdiam memandangi mataku sangat dalam, tersenyum.
“tak akan ada hari yang terlewat untuk kita saling menghubungi.”
“kita beda benua sayang.” Kataku putus asa.
“cinta tak mengenal jarak.” Ucap nya sambil beranjak dari ayunan dan beralih menatap bulan. Aku memeluknya dari belakang.

***

“dokter reza, ada pasien yang harus di operasi sekarang juga.” aku tersadar dari lamunanku, saat suster yang menyusulku ke ruang kerja, aku bergegas beranjak dari kursi ku dan masuk ruang operasi.
6 bulan, nyatanya kamu memang benar-benar ditelan jarak sayang, tak ada lagi telepon mu lenyap semua janjimu seiring berjalan nya waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar