“masih sama evan?” aku mengangguk sambil menatap lurus
kedepan. “ngarepnya.” Lanjutnya. Aku memincingkan mataku kearahnya lalu kembali
dengan tatapan ku sebelumnya.
“liat tuh, kan udah ngegandeng sandra. Jangan coba-coba jadi
PHO deh ris.”
“emang aku udah berbuat apa ren? Aku bahkan Cuma bisa ngeliatin kaya gini aja. Udah cukup untuk saat ini.”
“ cinta itu emang butuh perjuangan, tapi ya kalo suka
sama orang yang udah punya pacar. Lebih baik mundur. Lagian mereka udah lama
pacaran.” Aku menggeleng lemah, rena mengangkat bahu nya pertanda pasrah. Entah
untuk ke berapa kalinya rena mengingatkan ku tentang ini. katanya, aku tidak
boleh jadi perusak hubungan orang lah,
nyadar diri lah, inget status lah. Dan bla bla bla... bukan kah setiap
orang berhak mencintai? Termasuk aku kan?
“aku tahu betul tentang itu, bahkan aku tau kapan tanggal
jadi mereka. Aku juga tau mereka pasangan ter-romantis menurut kacamataku hingga saat
ini.”
“lalu apa lagi yang bisa di harap kan? Move on risa, tuhan
udah ngirim jodoh buat setiap orang.”
“maka dari itu, siapa tau evan jodoh aku.”
“emang kamu tega ris?” katanya, aku menghempaskan nafasku. Selalu
saja pertanyaan ini. lagi dan lagi.
“setiap orang itu berhak mencintai .. termasuk aku.” Suaraku
makin tak jelas terdengar tertutup oleh bisingnya kantin ini.
“apa yang mau kamu lakukan? Gak ada gunanya juga.”
“menunggu.. hanya itu.” Desisku. aku menunduk lemah, sampai kapan aku bisa meredam rasa cemburu ku setiap aku melihat evan dengan sandra. saudara kembarku.
**
“risa, ayo pulang udah di jemput papa tuh.” Sandra menghampiri
meja ku, aku mendongak lalu mengangguk.
“aku pulang duluan ya ren,” rena hanya tersenyum lemah lalu
menggelengkan kepalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar