Rabu, 17 April 2013

kubiarkan semuanya terjadi, aku mencintainya




“masih sama evan?” aku mengangguk sambil menatap lurus kedepan. “ngarepnya.” Lanjutnya. Aku memincingkan mataku kearahnya lalu kembali dengan tatapan ku sebelumnya.

“liat tuh, kan udah ngegandeng sandra. Jangan coba-coba jadi PHO deh ris.”

“emang aku udah berbuat apa ren? Aku bahkan Cuma bisa ngeliatin kaya gini aja. Udah cukup untuk saat ini.”

“ cinta itu emang butuh perjuangan, tapi ya kalo suka sama orang yang udah punya pacar. Lebih baik mundur. Lagian mereka udah lama pacaran.” Aku menggeleng lemah, rena mengangkat bahu nya pertanda pasrah. Entah untuk ke berapa kalinya rena mengingatkan ku tentang ini. katanya, aku tidak boleh jadi perusak hubungan orang lah,  nyadar diri lah, inget status lah. Dan bla bla bla... bukan kah setiap orang berhak mencintai? Termasuk aku kan?

“aku tahu betul tentang itu, bahkan aku tau kapan tanggal jadi mereka. Aku juga tau mereka pasangan ter-romantis menurut kacamataku hingga saat ini.”

“lalu apa lagi yang bisa di harap kan? Move on risa, tuhan udah ngirim jodoh buat setiap orang.”

“maka dari itu, siapa tau evan jodoh aku.”

“emang kamu tega ris?” katanya, aku menghempaskan nafasku. Selalu saja pertanyaan ini. lagi dan lagi.

“setiap orang itu berhak mencintai .. termasuk aku.” Suaraku makin tak jelas terdengar tertutup oleh bisingnya kantin ini.

“apa yang mau kamu lakukan? Gak ada gunanya juga.”

“menunggu.. hanya itu.” Desisku. aku menunduk lemah, sampai kapan aku bisa meredam rasa cemburu ku setiap aku melihat evan dengan sandra. saudara kembarku.

**
“risa, ayo pulang udah di jemput papa tuh.” Sandra menghampiri meja ku, aku mendongak lalu mengangguk.

“aku pulang duluan ya ren,” rena hanya tersenyum lemah lalu menggelengkan kepalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar