Rabu, 02 Oktober 2013

Dua Wajah



            “Aku akan hancurkan mereka satu per satu.” Desis seorang wanita di tengah ruangan gelap dengan nada penuh dengan emosi dan dendam. Lalu wanita itu menancapkan pisau tajam ke salah satu foto yang sengaja ia tempel di dinding-dinding itu. seketika, ia tertawa penuh kepuasan saat ia berhasil mencabik-cabik foto itu dengan tangan nya.  

           Kania namanya, ia menebarkan senyum ke semua orang ia terkenal ramah dan baik di sekolahnya namun disudut yang lain banyak juga orang yang sengaja mengejek dan menghina kania karena kondisi fisiknya yang berbeda dari mereka, iya dua tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan parah dan akibatnya kakinya pincang sampai saat ini jalan nya pun hampir terseok-seok. Dalam hatinya sebenarnya ia menyimpan dendam kepada mereka, diam-diam ia mencuri-curi untuk memfoto wajah-wajah yang menghina keadaan nya, setelah itu ia sengaja menempel foto-foto hasil jepretan nya itu di paviliun miliknya. Tidak ada satupun yang tau tentang hal ini, tentang obsesinya untuk menjatuhkan mereka yang telah menjatuhkan nya juga. Bahkan lebih dari itu kania ingin menghabisi mereka semua. Kania ingin..... membunuh mereka.

            Ia memasukan sebuah pisau tajam ke dalam tas sekolahnya, rencana nya hari ini ia dan sekumpulan kelompoknya akan kerja kelompok niat kania adalah ingin menghabisi mereka satu persatu. Tiba-tiba ia tertawa tapi seperkian detik berikutnya air matanya tak mampu lagi di bendung.

            “Kania?” cepat ia memasukan pisau itu kedalam tasnya, lalu ia berbalik dengan senyum yang merekah.

            “Iya, kenapa ta?” ucapnya dengan nada seramah mungkin, tata teman nya menghampiri kania lalu dudukdi sampingnya. 

            “Ayok! Kita kan ada kerja kelompok yang lain udah pada nunggu tuh di depan.” Ucap tata, sambil membenahi barang-barang miliknya kania bangkit dari duduk nya lalu tata pergi meninggalkan kania yang sedang berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok. Air di kepala kania rupanya semakin mendidih.
                                                                            *** 
“Dewi, ikut ke toilet boleh?”

“oh boleh kan, kamu lurus aja dari sini nanti belok kiri ya. Eh bentar buku fisika kamu mana? Aku pengen nyalin dong.”

“oh itu ada di tas, ambil aja.”

            Lalu kania bangkit dan berjalan menuju toilet dengan langkah lambat, ia sudah tidak sabar ingin meloloskan rencananya itu. di toilet ia sedang menyiapkan mental dan keberanian dirinya sendiri. Sementara di tempat yang sama teman-teman nya sedang berpelukan sambil ketakutan saat dewi menemukan sebilah pisau tajam di tas kania yang di lapisi oleh tisu tipis, dan di tisu itu nama mereka tertulis di sana. 

“Astaga ta, gimana ini? aku takut!!” bisik dewi, tita ikut meringkik sambil memeluk dewi dan mila.

Sekembali nya kania dari toilet serempak mereka berteriak histeris, kania yang baru saja kembali itu bingung dengan teman-teman nya. “loh, kalian kenapa?”

“psycopat lo! Lo mau bunuh kita kania? Kenapa?” teriak mila memberanikan diri kania tertegun sesaat ia lupa nyawanya di mana. Kania berusaha bersikap sewajar mungkin sambil mengambil pisau miliknya itu, mereka bertiga mundur perlahan menjauhi kania.
“lo mau tau? Rasain dulu nih jadi gue! Rasain gimana rasa nya di bully setiap hari karena keadaan gue yang kaya gini!” ucap kania dengan penuh penekanan, dengan jalan terseret kania menghampiri mereka. 

Dewi memberanikan diri untuk mendekati kania.
“kania please, turunin pisau itu. kita bisa bicarain ini baik-baik. Kita bisa mulai semuanya dari nol.” Dewi menghampiri kania, tapi kania malah mundur menjauh malah dia yang balik ketakutan. Dewi akhirnya merebut paksa pisau itu. kania berteriak histeris. Di belakang, tata dan mila saling merapatkan pelukan mereka. Kini pisau itu sudah ada ditangan dewi, mereka tidak melihat dewi dan kania. Mereka hanya mendengar teriakan dan sayup-sayup suara nafas yang terengah. Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi mendengar teriakan dari dewi maupun kania. Selang beberapa menit kemudian, dewi kembali dengan senyuman yang merekah.

“dewi gimana kania?” tanya mila cemas, dewi malah tersenyum lebar.

“dia sudah beres!” ucapnya sambil mengacungkan pisau yang penuh darah.

2 komentar:

  1. hmmm idenya bagus, cuma karakternya kurang kuat aja. lalu tiba2 dewi membunuh tanpa sebab yg jelas. kania pun rencananya kurang kuat. nice story ^_^

    BalasHapus
  2. hehe iya mba makasih, masih harus banyak belajar. :)

    BalasHapus