“Aku akan hancurkan mereka satu per
satu.” Desis seorang wanita di tengah ruangan gelap dengan nada penuh dengan
emosi dan dendam. Lalu wanita itu menancapkan pisau tajam ke salah satu foto
yang sengaja ia tempel di dinding-dinding itu. seketika, ia tertawa penuh
kepuasan saat ia berhasil mencabik-cabik foto itu dengan tangan nya.
Kania namanya, ia menebarkan senyum
ke semua orang ia terkenal ramah dan baik di sekolahnya namun disudut yang lain
banyak juga orang yang sengaja mengejek dan menghina kania karena kondisi fisiknya
yang berbeda dari mereka, iya dua tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan parah
dan akibatnya kakinya pincang sampai saat ini jalan nya pun hampir
terseok-seok. Dalam hatinya sebenarnya ia menyimpan dendam kepada mereka,
diam-diam ia mencuri-curi untuk memfoto wajah-wajah yang menghina keadaan nya,
setelah itu ia sengaja menempel foto-foto hasil jepretan nya itu di paviliun
miliknya. Tidak ada satupun yang tau tentang hal ini, tentang obsesinya untuk
menjatuhkan mereka yang telah menjatuhkan nya juga. Bahkan lebih dari itu kania
ingin menghabisi mereka semua. Kania ingin..... membunuh mereka.
Ia memasukan sebuah pisau tajam ke
dalam tas sekolahnya, rencana nya hari ini ia dan sekumpulan kelompoknya akan
kerja kelompok niat kania adalah ingin menghabisi mereka satu persatu. Tiba-tiba
ia tertawa tapi seperkian detik berikutnya air matanya tak mampu lagi di
bendung.
“Kania?” cepat ia memasukan pisau itu
kedalam tasnya, lalu ia berbalik dengan senyum yang merekah.
“Iya, kenapa ta?” ucapnya dengan
nada seramah mungkin, tata teman nya menghampiri kania lalu dudukdi sampingnya.
“Ayok! Kita kan ada kerja kelompok
yang lain udah pada nunggu tuh di depan.” Ucap tata, sambil membenahi
barang-barang miliknya kania bangkit dari duduk nya lalu tata pergi
meninggalkan kania yang sedang berusaha bangkit dan berjalan terseok-seok. Air di
kepala kania rupanya semakin mendidih.
***
“Dewi,
ikut ke toilet boleh?”
“oh
boleh kan, kamu lurus aja dari sini nanti belok kiri ya. Eh bentar buku fisika
kamu mana? Aku pengen nyalin dong.”
“oh
itu ada di tas, ambil aja.”
Lalu kania bangkit dan berjalan
menuju toilet dengan langkah lambat, ia sudah tidak sabar ingin meloloskan
rencananya itu. di toilet ia sedang menyiapkan mental dan keberanian dirinya
sendiri. Sementara di tempat yang sama teman-teman nya sedang berpelukan sambil
ketakutan saat dewi menemukan sebilah pisau tajam di tas kania yang di lapisi
oleh tisu tipis, dan di tisu itu nama mereka tertulis di sana.
“Astaga
ta, gimana ini? aku takut!!” bisik dewi, tita ikut meringkik sambil memeluk
dewi dan mila.
Sekembali
nya kania dari toilet serempak mereka berteriak histeris, kania yang baru saja
kembali itu bingung dengan teman-teman nya. “loh, kalian kenapa?”
“psycopat
lo! Lo mau bunuh kita kania? Kenapa?” teriak mila memberanikan diri kania
tertegun sesaat ia lupa nyawanya di mana. Kania berusaha bersikap sewajar
mungkin sambil mengambil pisau miliknya itu, mereka bertiga mundur perlahan
menjauhi kania.
“lo
mau tau? Rasain dulu nih jadi gue! Rasain gimana rasa nya di bully setiap hari
karena keadaan gue yang kaya gini!” ucap kania dengan penuh penekanan, dengan
jalan terseret kania menghampiri mereka.
Dewi memberanikan diri untuk mendekati
kania.
“kania
please, turunin pisau itu. kita bisa bicarain ini baik-baik. Kita bisa mulai
semuanya dari nol.” Dewi menghampiri kania, tapi kania malah mundur menjauh
malah dia yang balik ketakutan. Dewi akhirnya merebut paksa pisau itu. kania
berteriak histeris. Di belakang, tata dan mila saling merapatkan pelukan
mereka. Kini pisau itu sudah ada ditangan dewi, mereka tidak melihat dewi dan
kania. Mereka hanya mendengar teriakan dan sayup-sayup suara nafas yang
terengah. Beberapa menit kemudian mereka tidak lagi mendengar teriakan dari
dewi maupun kania. Selang beberapa menit kemudian, dewi kembali dengan senyuman
yang merekah.
“dewi
gimana kania?” tanya mila cemas, dewi malah tersenyum lebar.
“dia
sudah beres!” ucapnya sambil mengacungkan pisau yang penuh darah.
hmmm idenya bagus, cuma karakternya kurang kuat aja. lalu tiba2 dewi membunuh tanpa sebab yg jelas. kania pun rencananya kurang kuat. nice story ^_^
BalasHapushehe iya mba makasih, masih harus banyak belajar. :)
BalasHapus